Mare Hantu Merah Jambu

Mare hanya hantu manis bergaun jambon di pohon beringin tepi laut. Di kaki bukit teluk, tempat ia menunggu dan menghitung hari, minggu dan rindu. Menatap nanar matahari surup, atau tersenyum lega saat cahya matahari merembang. Menjadi warna hijau pada pohon, hitam batu, biru laut, jambon gaun pengantinya. Ia masih menunggu. Di kaki bukit, di teluk … Lanjutkan membaca Mare Hantu Merah Jambu

Tempat Yang Tak Akan Kita Tempuh

Pada tempat yang tak akan kita tempuh. Ada matahari cerlang menyinar. Burung-burung semerah dedaunan. Bunga dan dengung lebah. Pada tempat yang tak akan kita tempuh. Neon putih cahya pada bagunan lagi tinggi menjulang. Dan orang-orang hidup sepanjang malam. Pada tempat yang tak akan kita tempuh. Anak-anak terisak, tergelak dan bermain-sorak . Tiba-tiba, rambut kita perlahan … Lanjutkan membaca Tempat Yang Tak Akan Kita Tempuh

Aku Hanya Butuh Satu Jari Lagi

Apakah kau bahagia dengan pilihannya atau justru merana? __Catur Ketika kita berpisah hari itu, aku masih merindukanmu. Aku bisa mengatakannya secara langsung. Aku masih menyimpan nomer ponselmu lengkap dengan foto profilmu- bermata dalam dan gigi ganih. Dapat kuhubungi kapan pun. Tapi aku tak yakin kau merindukanku, itu masalahnya. Jadi saat aku merindukanmu, selalu kuhitung apa-apa … Lanjutkan membaca Aku Hanya Butuh Satu Jari Lagi

Philip G. Jessup dan Amerika: antara Menetaskan dan juga Menjaga Mereka Tetap di Pekarangan.

Seusai perang dunia II, pada 1945, negara-negara koloni ingin bebas dan menjadikan diri mereka merdeka sepenuhnya. Di sapih dan merangkak sampai berlari sendiri. Satu diantara mendapatkan kebebasannya dengan sukarela, lainnya melalui perlawanan dengan peperangan, lain diantaranya pula menjadikan diplomasi menjadi titian. The Birth of Nation ditulis oleh Philip G. Jessup mencatat bagaimana proses pengakuan internasional … Lanjutkan membaca Philip G. Jessup dan Amerika: antara Menetaskan dan juga Menjaga Mereka Tetap di Pekarangan.

Mo Yan dan Sejarah “Jarum di Timbunan Jerami”

Siapa yang bakal menulis sejarah orang kecil, kalau bukan orang kecil. Kira-kira begitulah Mo Yan menulis sejarah di lingkungannya. Ia berporos pada dirinya sendiri, namun mampu menulis fenomena yang ada di sekitarnya mulai dari; sosial budaya, ekonomi sampai pada politik. Itulah yang dapat di baca dalam novel Di Bawah Bendera Merah. Walaupun tulisan ini tidak … Lanjutkan membaca Mo Yan dan Sejarah “Jarum di Timbunan Jerami”

Perayaan Pertobatan

Sambil membawa tiga dewa. Seseorang berkata padaku "aku ingin tobat". Dua botol itu berdenting, tergoncang ketika ia duduk. Ia ikut nimbrung di antara kami. Mengikuti pembicaraan yang terpotong. Kami saling pandang memastikan kami mengenalnya. Namun tak ada satupun dari kami memberi isarat apapun, kecuali rasa heran. Sebelum di antra kami angkat bicara kembali, lelaki itu … Lanjutkan membaca Perayaan Pertobatan

Asmahan yang Bermain Layang-layang

Saya memang belum cukup banyak dalam membaca beragam puisi. Dari tak cukup banyak itu hanya penyair laki-lakilah yang melekat pada pembacaan saya, seperti Afrizal Malna, Aan Mansyur, Goenawan Moehammad dan Chairil Anwar. Namun ada penyair perempuan yang masih erat pada otak saya yakni Avianti Armand. Karya-karya Avianti bagi saya cukup menarik. Selain liris, beberapa ekplorasi … Lanjutkan membaca Asmahan yang Bermain Layang-layang

Peristiwa di Halte

1. Di halte Seorang gadis mengusap pada basah pipinya. Mungkin tempias hujan. Atau hujan hari panjang akan tiba segera di seberang jalan. Lalu kemarau kemalaman dan meminjam tempat tidurnya. Tiba-tiba. Malam remang. Hari sewarna kusta pada lampu salter. Hujan yang gaib. Hujan tak raib. 2. Di halte Seorang menekan dadanya. Mengusap luka. Tengah malam barangkali … Lanjutkan membaca Peristiwa di Halte

Dua-Tiga Laron Datang-Pulang, Kesepian tetap “Abadan”

Adzan mengambang pada sore, terdengar hambar dan sumbang. "Sluke memasuki sore hari" batinku, seolah ada pembawa berita petang. Menyiarkan sebuah kesepian di kamar Puskesmas. Lelaki tua, lagi akan semakin tua. Dia sedang rawat inap. Sering tak ada percakapan antara kami, namun pasien sering menguap. Mungkin reaksi tubuh yang kurang sehat atau memang waktu melepas lelah, … Lanjutkan membaca Dua-Tiga Laron Datang-Pulang, Kesepian tetap “Abadan”